Kala Mati,

Tergambarlah ia; perempuan yang menaruh dirinya dalam pikiran orang-orang tentang bagaimana rupanya. Ia; perempuan yang membuka pagi dengan duduk di depan pintu rumah sambil menyisir beberapa helai rambut yang mulai putih, berusaha acuh terhadap gunjingan orang-orang di kampung karena tidak ada asap yang mengepul dari dapurnya, tangisan orok dari gendongannya,  laki-laki gagah dengan kulit coklat terbakar yang mengolah pekarangannya. Ia lupa akan kala; dimana pagi berlari menuju malam yang merebah. Sebab ia mengimani orang diluar dirinya dengan diam, sebab ia menjalaninya perlahan-lahan dan membunuh liarnya imajinasi. Sebuah kealpaan yang membiarkan ruh nya mengutuk berulang-ulang untuk tidak hidup kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s