Rekonsiliasi

Sekalipun aku tahu jatuh cinta itu mudah, tetap saja hal itu adalah pilihan terakhir buatku semenjak kita meninggalkan percakapan tentang apa kabarku, bagaimana kehidupanku, apakah aku masih skeptis tentang independensi perempuan dalam percintaan; apakah aku sudah menikah.

Sejujurnya apapun tindakanku tidak seharusnya menjadi sesuatu yang kaupikirkan sebelum tidur, sebab berdebat dengan sisa-sisa ingatanmu tentang ideologi yang dipaksakan kepada seseorang adalah tirakat sia-sia, sebab keyakinan ditujukan untuk memiliki pengikut, sebab keyakinan diharuskan berkorban. Aku takut kau salah tafsir.

Rumit. Sebab aku dan kau tidak sekedar memilih hijau atau kuning, rok atau celana, hijab atau you-can-see, barcelona atau madrid. Kau menisbikan keesaan yang tidak bisa dipilih. Dan ketika kemerdekaan untuk tidak memilih dianggap pembangkangan,  kau membuatku berdebat dengan diriku sendiri tentang streotipe perempuan berdikari. Lalu apakah itu hubungan yang setimpal ? Apakah kelaki-lakianmu merasa terwakilkan ?

Mungkin baiknya aku dan kau sama-sama menyesali takdir untuk bertemu, sehingga kita tidak terbentur isi kepala masing-masing, tidak saling mengingat penjajahan masing-masing yang diatasnamakan kekasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s