P.

Di sebuah kota yang tidak pernah terlelap, kaca dari kafe-kafe berjejer di sepanjang jalan yang tidak pernah terlewat sebagai kawan bagi perempuan yang membawa tangisan dari rumah. Perempuan yang berusaha menutupi dadanya dengan lengan yang disilangkan di atas meja sebagai perlawanan dari mata lelaki-lelaki yang membiarkan kopi-kopi yang mereka pesan menjadi dingin sehingga pramusaji di kafe itu memaksa senyum tetap tersemat diwajahnya karena harus membuat kopi kedua kalinya dan tutup lebih lama sedang kekasihnya telah menunggunya di seberang jalan sana untuk merayakan setahun usia pernikahan mereka dengan bersama-sama menikmati pizza dan cola malam ini.

Perempuan berkaos putih yang sedang mengaduk-aduk teh olong panas dihadapannya itu sedang menyusun kalimat-kalimat untuk diyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ada takdir yang bisa dirubah; andai salah mencintai juga termasuk didalamnya, andai lelaki itu bukan pilihannya, andai ia sempat berdoa sebentar sebelum kemari.

Ia menyandarkan sisi kanan kepalanya pada kaca yang mulai dingin; ini sudah terlalu larut untuk mengingat kembali lelaki berkumis tipis dengan cincin emas di jari manis kirinya itu. Menjadi sebuah pilihan atas pertanyaan idealis tentang kebahagian; terkadang lupa bahwa masih ada surga yang dapat diraih melalui berkah-berkah orang tua, sedekah kepada fakir, dan amarah yang ditahan baik-baik di ujung mulut.

Perempuan itu menghela nafas panjang mencari jeda, kemudian berpikir akan perempuan-perempuan lain yang air matanya tertahan molek pada ujung-ujung bulu mata, yang kepalanya tidak bersandar pada kaca, yang masih menyematkan nama leluhur lelaki mereka pada nama belakangnya meskipun sudah tidak lagi menjadi yang pertama.

Dan malam sudah terlalu larut untuk dilewati dengan segelas teh olong yang sudah dingin, kopi-kopi yang tidak menyisakan ampas, untuk mulut-mulut yang bergunjing tentang mobil tetangga yang baru dibeli. Dan terlalu terlambat bagi seorang pramusaji untuk menghabiskan sisa malam dengan kekasihnya di seberang jalan itu sebab sekarang wajahnya sudah benar-benar bersungut-sungut kecewa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s