Kebebasan Roti-Roti dalam Pemanggang

Jalanan pada sebuah kota yang tidak pernah ramai karena anak-anak lelaki harus menggembalakan domba ke lembah berhari-hari sebelum musim dingin tiba bulan depan sedangkan bapak-bapak asyik bermain Kalashnikov di daerah perbatasan karena sebentar lagi truk-truk dengan embel kemanusiaan akan datang ke sini. Demokrasi dengan sekotak permen Halloween warna-warni yang diletakkan di depan pintu rumah bukan oleh Sinterklas karena rumah tidak punya cerobong asap.

Tidak ada roti yang keluar dari pemanggang pagi ini sehingga adikku menangis lapar namun Ibu berkata tidak ada yang bisa menggembalakan domba ini selain dia. Karena aku harus ke kota yang sepi itu untuk duduk di pinggir jalan sambil merajuk dan berpura-pura yatim yang sudah kulakukan berulang kali sepanjang musim panas ini; setidaknya masih ada peziarah lokal yang berderma melemparkan beberapa keping uang sebagai ritual sebelum mereka bersusah payah berdoa di makam Syekh besar di atas bukit sana.

Aku anak lelaki yang tidak menggembalakan domba, yang tidak bisa memanggang roti untuk adikku, yang pada pipi kanan nya ada tahi lalat sehingga membuatnya terlihat cantik sekali. Aku rasa ia secantik bintang Bollywood yang bernyanyi, dengan perutnya yang bergerak-gerak terbalut kain sari merah dan kuning pada video yang sering diputar di kedai Paman Salim tiap malam. Lain kali akan kuceritakan seperti apa film Bollywood itu kepadamu,

Aku anak lelaki yang berpura-pura yatim karena Ibu bilang bahwa Bapak sedang membangun rumah di surga dengan perapian yang memiliki cerobong asap dan pemanggang yang tidak terlihat bara apinya dari luar sehingga roti-roti yang nantinya akan dibakar tidak perlu gosong di bagian bawahnya. Sesuatu yang sering kukeluhkan kepadanya di hari-hari sebelum orang-orang di desa saling berteriak kafir satu sama lain sehingga aku tidak lagi mengaji di surau. Untungnya, aku sudah dikhitan dan setidaknya, sudah ada Bapak di surga.

Jogja, 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s