SURGA SENGKETA

dengan nama bapaibu, aku berjalan melewati gurungurun tanpa hujan. membawa langkah pelan di bawah burungburung bangkai yang berputar-putar lapar di udara panas. berkali-kali oase menuntun langkah keliru, pada harapan utopis tanahtanah berwarna merah, dombadomba gemuk dan deretan ladang opium dengan bunga putihnya itu

aku bercerita kepada bapaibu tentang surga sengketa. bukan dilupakan tuhan: ia dihapus dari sejarahnya. lembah Wakhan, kisah rajaraja bangsa Arya, wanitawanita dalam burqa, hamparan padang rumput, serta deretan pohonpohon bukan kurma

aku bertemu dengan pendekarpendekar Afghan bermata biru menaiki kuda perangnya, meneriakkan nama Imam Ali, melintasi pegunungan seberang tanah Tajik: sebuah kemerdekaan, andai ranjau belum meledak sebelum kening anakanak perempuan mereka sempat dikecup

bapaibu, maaf. surga yang akan kubeli tidak lagi disini. ia berevolusi menjadi festival tarian bacha berparas cantik dengan gelang gemericik pada kakikaki putih mereka sebab sekolah tutup lagi hari ini.

kumparan dan jarum waktu rusak untuk lebih lama lagi. untuk yang terlupakan di negri yatimpiatu, tanpa mahram, tanpa nasi berminyak dan teh tarik hangat untuk sarapan esok pagi.

Jogja, 2016

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s