Tidak Perlu Sebuah Judul

hari Sabtu dengan hujan dan daun-daun berguguran dari pohon akasia di depan cafe, dimana aku dan dia bertemu tadi malam. saling diam, melihat lebih jelas muka masing-masing sambil berandai-andai kecanggungan ini bisa dihilangkan dengan segelas teh hijau dingin yang sudah dipesan beberapa menit sebelumnya. kami terdiam dalam cerita dari isi kepala masing-masing. kenapa baru sekarang ? kenapa tidak dari dulu ? kenapa harus Jogja ? kenapa harus dia ? kenapa harus aku ?.

adalah salah, ketika memutuskan untuk duduk di serambi cafe, dengan angin yang hembusannya membuat geli belakang leherku. sambil sesekali melihat bagaimana dia memperhatikan warna sepatuku yang sudah pudar disana sini. ya itu caranya mengalihkan pusat perhatian dari pembicaraan yang dimulai sepuluh menit lalu.

lalu aku mulai mengalihkan perhatianku kepada mbak-mbak pelayan cafe yang bajunya sudah lusuh disana-sini, ya mungkin sudah lebih dari dua belas jam dia melayani tamu-tamu diam seperti kami berdua, yang cuma memesan segelas teh hijau dan sebuah asbak.

“aku tidak bisa menjalani ini lagi”; sambil membuang puntung rokok terakhir ke dalam asbak, lalu dia menarik ke belakang kursi kayu itu, kemudian pergi.

Oh sudah lama ternyata aku duduk disini, sampai-sampai lupa bahwa teh hijau di depanku sudah lama dingin. aku ingat dengan benar bagaimana rasanya teh hijau dalam poci ini disajikan hangat-hangat, di malam-malam seperti ini. hanya membayangkan andai saja ada segelas cream, mungkin akan lebih baik. Ah tapi sudah terlalu larut untuk memesan itu.

Bogor, 30082015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s