[2] Raa dan Sayydan

Raa datang lagi kali ini, tapi tanpa kalimat yang sepenggal-sepenggal seperti biasanya. Berkatalah ia “Aku ingin mati dengan mencium bunga Sedap Malam, dan kau disampingku“.

Belum sempat udara disekitar nya berubah menjadi sangat berbau, Raa memegang tangan kanan Sayydan dan meletakkannya didada sebelah kiri, “Kalaupun kematian inginkanku sekarang, aku tidak akan berontak“. “Mereka memiliki ku sekarang…“, desahan nafas Raa sudah tidak teratur, meloncat-loncat dari abjad E ke G lalu N ke O dan mungkin menuju Z.

Sayydan melihat telapak tangan kirinya yang berubah menjadi pucat. Ia takut kematian.

Aku…tidak bisa menjadi kembaran bunga Sedap Malam seperti yang kau mau, Raa“. “Denyut nadiku berwarna biru, mungkin tidak sebiru langit-langit yang kau kejar tiap pagi“, lanjut Sayydan.

Sayydan cukup meyakinkan Raa bahwa ia mungkin bukan manusia. Milik manusia berwarna merah. Dan apa yang terlihat ditelapak tangan kanan ini, bukan merah. Ini jelas. Bukan merah.

Berjanjilah dengan mengaitkan kelingkingmu pada ujung bulan sabit nanti malam, Sayydan“. “Aku ingin melihatmu bergantung disana, dimalam saat aroma dupa dari tubuhmu keluar perlahan, dan menguap“.

Raa masih menggenggam tangan kanan Sayydan yang mulai berwarna kuning. Warna yang tidak seperti bunga Sedap Malam yang disukainya. Berucap lirih, Raa berkata “Aku adalah kau, Sayydan“.

Sayydan mengangguk. Air menetes dari ujung-ujung matanya. Diambilnya belati dari dalam tanah, disayatnya pergelangan tangan kiri, berharap darah yang jatuh akan berubah menjadi merah.

Bogor, 14-7-14

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s