Anomali

mendekatlah kami pada bulan yang tertangkup sendiri

mendekatkan bibir kami hingga saling mencecap rasa yang anomali

aku tak merasa kami. kami pun tak merasa dimiliki

saat lidah terpotong dan jadi santapan anjing Tuan-Tuan kami

kami masih bersolek, seperti menyanyikan lagu-lagu cinta dengan nada sumbang

dan mendekatlah kami pada bulan yang tertangkup sendiri

meniadakan aku. merajah nama Tuan-Tuan dipergelangan kaki

sambil berdansa, menyanyikan lagu berirama Jazz, kami saling membuang kecupan

menanggalkan sapu tangan untuk mengusap tangisan sewindu

selamat malam Tuan-Tuan

selamat tinggal pagi merah jambu

Bogor, 26-6-14

[deklamasi puisi ini dapat didengarkan di sini] 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s