Rindu Dinda !

Persimpangan jalan ini tidak asing. Dinda pernah beberapa kali berada di tengah-tengahnya.
Meski dengan peta atau intuisi saja, meski berdarah-darah atau hanya seringai parau yang tersemat.

Tetap saja, Dinda penasaran.
Kaki tidak lagi gemetar karena pohon beringin yang gahar di tepi jalan. Tidak seperti dulu saat pertama ada disini.

Mulut Dinda mencoba memantrai pojok-pojok jalan di persimpangan. Harap-harap cemas semoga ruh penasaran tidak mengikutinya hingga kubur.

Kapak ditangan Dinda sudah siap sejak dua jam lalu. Tepat sebelum sampai di persimpangan kacau itu. “Saatnya mencium bau surga”, “..dan mengintip sedikit isi neraka“, seringai Dinda yang rambut hitam kemerahannya lepek basah keringat. Bau anyir.

Ular-ular tahu. Pohon beringin tahu. Angin berhenti sejenak, melihat kapak Dinda menebas lima jiwa pada salah satu persimpangan itu. Angin kembali berhembus lembut, mensyairkan kepedihan, membawa air mata, memekikkan nama Tuhan dan Rasul-Nya, mengeringkan darah yang terlanjur membasahi tanah.

Dinda kembali menyeringai puas, menciumi jiwa yang terkapar nista “Kalian selalu milikku, jangan bilang tidak lagi“.

Bogor, 19-4-14

Iklan

2 thoughts on “Rindu Dinda !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s