Kekasih Malam

Sore menceritakan bagaimana tangguhnya ia melewati Malam, yang terkadang diam-diam membuntutinya hingga pagi.

Malam selalu begitu. Mengagumi namun tak mampu menjamah, mencintai namun tak sanggup mewarnai.

“Ah, Malam yang malang”. “Ingin liar tapi tidak mau melepaskan tali pancang”.

Begitulah kata Sore, sambil memelintir rambut hitamnya yang terlihat keemasan terhempas matahari senja. Tampak gusar.

Bogor, 16 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s