PROLOG #3

Kertas-kertas yang berserakan mulai saling menjauh karena hembusan angin dari jendela seberang. Pensil yang ujung nya telah patah dan bekas sisa hapusan tulisan semalam masih belum dibersihkan juga. Tapi anehnya mereka tidak ikut melayang-layang dibawa angin, mungkin karena mereka lebih dekil, lebih berat dan lebih bulat daripada kertas.

Tempat terakhir kali yang aku ingat adalah lantai. Ya lantai ini. Kenapa aku bisa tertidur disini ? Bukannya semalam aku berada di…..

Ah, Sial. Kepala ku berontak diajak mengingat kejadian semalam.

Mataku kembali memutar dan menyapu seluruh ruangan. Ah, apa sebenarnya yang terjadi hingga kamar tidur ku berantakan dengan buku begini. Ahh, sial, pusing ini tidak juga menghilang.

Tok tok tok. Suara pintu diketuk dengan suara lirih.

Mbak..mbak Ana..” ucap suara wanita dibalik pintu

Iya, sebentar” ucapku sambil berusaha bangkit dan sedikit terhuyung ke sana kemari dan berusaha menggapai kenop pintu.

Kenop pintu kamar berhasil aku pegang.

Oh Bibi, ada apa Bi ?” tanya ku sambil tetap memegang sisi kanan kepala ku yang terasa sangat pusing

Mbak, hari ini mau masak apa ? biar saya bersiap ke pasar” ucap Bibi.

Hari ini aku tidak kepikiran mau makan apa sebenarnya, sudah tidak ada ide, apalagi semenjak kepergian mas Sandi tiga hari lalu dari rumah. Aku serasa kehilangan selera untuk makan, bahkan untuk makanan paling enak sekalipun. Aku makan hanya untuk menjejali lambungku agar tidak sakit. Itu saja. Kalau selera, selera ku datar. Datar sekali.

Hmmh,,terserah Bibi aja” ucapku sambil berlalu meninggalkan pintu kamar, menuju tempat tidur. Ah, aku ingin berbaring sebentar. Badanku terasa remuk, kepala ku ingin meledak. Entah kenapa ini.

Perlahan-lahan aku mulai memejamkan mata, sambil sedikit melihat ornamen plafon kamar yang didesain mirip luar angkasa. Ya, aku sangat terobsesi dengan astronomi, bulan dan Planet Mars. Plafon kamarku itu berwarna biru tua, dengan gambar Planet Mars di sebelah kiri, dan Bumi disebelah kanan serta bulan disampingnya.

Entah, apakah itu posisi yang benar atau tidak, yang penting bagiku dari ornamen itu adalah dunia antariksanya, dan mas Sandi. Ya, mas Sandi sangat paham betul obsesi ku terhadap dunia luar angkasa itu, dan dia dengan penuh kejutan memberiku ornamen tersebut di hari pertama kami menempati rumah ini pasca menikah.

Sayang, liat deh ke atas..

Taraaaaa, surprise” ucap mas Sandi saat itu dengan eskpresi sangat gembira, dan tangan yang diangkat ke atas ketika dia mengucapkan “Taraaa”.

Segera aku memeluknya, dan mendaratkan kecupan kecil di pipinya. Aku memang tidak banyak bicara, tapi aku hanya memeluknya dengan sangat erat, dan tidak ingin melepasnya lagi.

Dan untuk kedua kalinya, ornamen ini membuatku haru. Kali ini bukan haru bahagia seperti pertama kali aku melihat adanya Planet Mars ataupun Bulan di kamarku. Haru itu berganti menjadi kesedihan. Kesedihan kenapa aku harus melihat Bulan dan Bumi bersanding bersama Planet Mars itu sendirian. Tanpa mas Sandi.

*prolog yang membingungkan, Hoo. Bogor, 27 Januari 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s